Eramuslim

Senin, 03 September 2018

Sunni,syi'ah dan kristen membutuhkan kepemimpinan global. sayangnya ada sunni lebih mempertahankan perpecahan

[Syi'ah & kristen bekerja keras untuk mempertahankan kepemimpinan global, 
Sedangkan sunny terus berusaha memecah diri]

Nur s:

Ummat islam belum mengerti sebuah misi revolusi syi'ah.
Karena itu revolusi islam syi'ah mendapatkan jalan mulus di berbagai negara termasuk di indonesia. 

Kepemimpinan syi'ah itu mirip model kepemimpinan katholik yaitu kepemimpinan spiritual tertinggi. 
Bahkan bukan sekedar misi spiritual tapi seorang pemimpin tertinggi syi'ah (rahbar) harus di dengar ucapannya oleh presiden atau pemimpin negara-negara bagian al-wilayatul faqih karena ia adalah seorang al-waliyul faqih (pemimpin yang sangat baik fahamnya).

Konsepsi wilayah faqih ini, merupakan kelanjutan dari doktrin kenabian dan imamah, yang mana secara periodik dalam sejarah syiah, kepemimpinan universal berdasarkan mandat ilahi terbagi pada empat periode, yaitu periode nabi, periode imam, periode kegaiban.

Sementara kita yang bukan syi'ah malah menghina dan menfitnah seruan khilafah.

Ada yang menuduh hizbut tahrir akan melakukan kudeta dan teror karena ia melakukan pendekatan kepada tentara. 
Saya jawab "tidak" pendekatan da'wah ideologi itu di lakukan di setiap ruang yang terbuka. Tidak ada tujuan menciptakan perang saudara di dalam metode thalabun nushrah HT. dan tak cukup hanya thalabun nushrah pada tentara.
Oleh karena itu konferensi khilafah global perlu di gelar di area umum bukan area rahasia.

Jika anda2 melihat bagaimana NU berorganisasi maka seperti itulah Hizbut Tahrir bergerak secara organisasi. 
Konferensi atau muktamar itu sangat penting.

Adapun model kepemimpinan yg mirip dengan system monarchy itu bukan urgensi.

Prinsip khilafah adalah ummat ini kembali kepada kepemimpinan a'zham. 
Seandainya terjadi kezhaliman dan ketidakadilan oleh pemimpin maka rasulullah nasihatkan kepada ummat untuk tetap bersabar dan taat kepada imamnya,apakah imam itu di angkat melalui ahwa atau di tunjuk imam sebelumnya karena masyaqqah seperti umar bin khattab dan khilafah bani umayyah/abbasiyah. 

Da'wah imamah/khilafah ini jangan di inkari atau di hasud dan di fitnahi kecuali jika engkau telah inkar sunnah.

Sabtu, 21 Juli 2018

Hukum bagi muslim yang meninggalkan shalat fardhu dan shalat jum'at

Nur s:

تكفير العلماء على الشخص من تكفير الرسول
[PENGKAFIRANYA ULAMA ATAS SESEORANG ITU BERDASARKAN PENGKAFIRANYA RASUL]
فقد اتفق العلماء على كفر من ترك الصلاة جحودا لها.
Ulama sepakat atas kufurnya orang yang benar-benar rela dan senang meninggalkan shalat.
واختلفوا فيمن أقر بوجوبها ثم تركها تكاسلا. فذهب أبو حنيفة رحمه الله إلى أنه لا يكفر، وأنه يحبس حتى يصلي. وذهب مالك والشافعي رحمهما الله إلى أنه لا يكفر ولكن يقتل حدا ما لم يصل. والمشهور من مذهب الإمام أحمد رحمه الله أنه يكفر ويقتل ردة،
Ulama berbeda pendapat pada orang yang mengakui kewajiban shalat namun ia meninggalkanya karena malasm.
Abu hanifah : "ia tidak kufur,tapi ia kena tindakan preventif sampai mau shalat"
Malik dan syafi'i : "ia tidak kufur tapi ia di bunuh sebagai had"
Ahmad bin hanbal yang masyhur : "ia kufur dan di bunuh sebab di hukumi telah murtad".

Dasar hadits:
"Siapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia terbebas dari tanggungan Allah dan rasulnya"
وما رواه أحمد من حديث أم أيمن مرفوعا" من ترك الصلاة متعمداً برئت منه ذمة الله ورسوله" وروى الترمذي عن عبد الله بن شقيق قال: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يرون شيئا من الأعمال تركه كفر إلا الصلاة.
"Sahabat rasulullah,
Mereka tidak melihat sesuatupun dari perbuatan yang seseorang meninggalkannya menjadi kafir kecuali shalat".

وقال الإمام ابن حزم : روينا عن عمر بن الخطاب - رضي الله عنه - ومعاذ بن جبل ، وابن ‏مسعود ، وجماعة من الصحابة ‏‎-‎‏ رضي الله عنهم ‏‎-‎‏ وعن ابن المبارك ، وأحمد بن حنبل ، ‏وإسحاق بن راهويه رحمة الله عليهم ، وعن تمام سبعة عشر رجلاً من الصحابة ، والتابعين ‏رضي الله عنهم ، أن من ترك صلاة فرض عامداً ذاكراً حتى يخرج وقتها ، فإنه كافر ‏ومرتد ، وبهذا يقول عبد الله بن الماجشون صاحب مالك
Ibnu hazm :
"Saya ceritakan dari umar bin khatab ra. Dan mu'adz bin jabal,ibnu mas'ud dan sekumpulan dari sahabat r.anhum. dan dari ibnul mubarak,ahmad bin hanbal,ishaq bin rahawiyah dan 17 orang sahabat dan tabi'in,mereka semua berkata : "Siapa meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja dan ingat sampai keluar waktunya maka sesungguhnya ia itu kafir dan murtad". Demikian juga di katakan oleh abdullah bin majisyun yang bermadzhab miliki".

[Hukum meninggalkan shalat jum'at]

وروى ابن ماجه (1126) عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ ) ، وحسنه الشيخ الألباني في " صحيح ابن ماجه " Ibnu majah dari jabir bin abdullah r.a:
Rasulullah bersabda : "Siapa meninggalkan shalat jum'at  tiga kali tanpa darurat maka Allah telah mengunci hatinya" 
Di shahihkan oleh syekh Al-Albani.

قال المناوي رحمه الله : " ( طبع الله على قلبه ) أي : ختم عليه وغشاه ومنعه ألطافه ، وجعل فيه الجهل والجفاء والقسوة ، أو صير قلبه قلب منافق " انتهى من "فيض القدير" ( 6 / 133).

وقد جاء في بعض الروايات تقييد هذا الترك بالتوالي ، ففي مسند الطيالسي عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله على قلبه ) ، وفي حديث آخر ( من ترك الجمعة ثلاث مرات متواليات من غير ضرورة طبع الله على قلبه ) ، وصححه الشيخ الألباني في " صحيح الجامع " .
Sebagian riwayat mentaqyid "meninggalkan" dengan "berturut-turut".
Didalam musnad Ath-thayalisi dari abi hurairah ra. Rasulullah : "Siapa meninggalkan tiga jum'at tiga kali berturut-turut tanpa darurat maka Allah telah mengunci/mengeraskan hatinya/menjadikannya munafik"

Dari: islamweb.net dan islamqa.info

Sabtu, 07 Juli 2018

makna kata "wali" pada wali songo itu tak bisa di artikan secara mistis dan mitosis animisme jawa kuno

Saya ingin tahu makna sebutan wali songo.

Padahal kalimat "wali" dan "wilayah"  itu sangat populer di telinga ummat,terlebih bagi para akademis islam.

Tapi sayangnya mereka terjebak pada makna yang mistis mitosis belaka.

Kita harus gali asal dan perubahan makna kontekstual setiap kalimat dan menunjukkan diri sebagai ummat yang mengedepankan keilmuan ,rasionalitas,dan menggali sejarah dengan sedalam-dalamnya untuk mengetahui korelasi antara tekstual dan kontekstual.

Dimulai dari memeriksa makna wilayah yang telah di adopsi menjadi bahasa melayu dan indonesia,ia adalah batasan yang menjadi medan kekuasaan atau kepengurusan.

Maka dari kalimat wilayah muncullah kalimat wali yaitu orang yang memiliki kuasa untuk mengurusi wilayahnya. 

Wali songo adalah sembilan orang penda'wah di tanah jawa yang tersebar di beberapa wilayah utara jawa-tatar sunda yang menjadi tanggung jawabnya.
Mereka sering bertemu sehingga ketika mereka berhasil mengislamkan keluarga kerajaan demak bentoro,mereka di fasilitasi masjid demak oleh raden fatah untuk memusyawarahkan urusan ummat dan kenegaraan. 

Di rangkulnya dan di dukungnya islamisasi yang dilakukan mereka oleh raden fatah itu maka semakin mengenalkan kepopuleran wali songo.

Makna "wali" pun semakin extraordinary yaitu bertambah menjadi wali kerajaan di wilayah-wilayahnya.

Makna wali pada wali songo yang lebih kuat adalah wali dalam penyebaran islam yg memiliki wilayah-wilayah atau medan da'wah,bukan wali dalam konteks kebathinan. Analisa ini bukan berarti menuduh wali songo tidak mengamalkan amal-amal kebathinan.
Sebab kalau di maknai wali kebatinan maka perkara itu tak mudah apalagi langsung sembilan orang di nyatakan sebagai wali kebathinan secara bersama,lalu di keramatkan ruh dan makamnya dan di jadikan tempat beritual.
Cukup mengakui mereka sebagai penda'wah yang beraktifitas biasa dan zuhud menyendiri di kesunyian dan memiliki ilmu kanuragan tanpa mendewakanya sebagai sosok-sosok yang nguwalati ruhnya (khurafat).


Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah majelisdakwah yang pertama kali didirikan olehSunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah).
Para Walisongo adalah pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan,kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Nama para Walisongo

Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat 9 nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

Sunan Ampel atau Raden Rahmat

Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim

Sunan Drajat atau Raden Qasim

Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq

Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

Sunan Kalijaga atau Raden Sahid

Sunan Muria atau Raden Umar Said

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Wali dalam kepemimpinan islam:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,

أَلاَ مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئاً مِنْ مَعْصِيَةِ اللّهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللّهِ، وَلاَ يَنْزِعَنَّ يَداً مِنْ طَاعَةٍ

Artinya : Ingatlah! Siapa saja yang telah diangkat atas dirinya seorang wali, lalu ia melihat wali itu melakukan sesuatu berupa kemaksiatan kepada Allah, hendaklah ia membenci wali itu karena kemaksiatannya kepada Allah, namun ia tidak boleh mencabut tangan dari ketaatan kepadanya/melakukan pemberontakan.(HR.Muslim).


Wali adalah orang yang diangkat oleh Khalifah sebagai pejabat pemerintah untuk suatu wilayah Provinsi. Negri yang diperintah oleh negara Khilafah dibagi dalam beberapa bagian dan setiap bagian disebut wilayah. Setiap wilayah dibagi dalam beberapa bagian dan setiap bagian disebut imalah. Karena para wali adalah penguasa maka mereka harus memenuhi syarat – syarat sebagai penguasa yaitu : harus seorang laki – laki, muslim, baligh, berakal, merdeka, adil dan memiliki kemampuan. Wali tidak diangkat kecuali oleh Khalifah. Dasar adanya jabatan Wali adalah perbuatan Rasulullah SAW karena beliau yang telah mengangkat para wali untuk berbagai negri. Rasulullah SAW mengangkat Muadz bin Jabal r.a sebagai wali diwilayah Janad, Abu Musa Al-ash’ari r.a sebagai wali diwilayah zabid dan ’Adn.

makna kata "wali" pada wali songo itu tak bisa di artikan secara mistis dan mitosis animisme jawa kuno

Saya ingin tahu makna sebutan wali songo.

Padahal kalimat "wali" dan "wilayah"  itu sangat populer di telinga ummat,terlebih bagi para akademis islam.

Tapi sayangnya mereka terjebak pada makna yang mistis mitosis belaka.

Kita harus gali asal dan perubahan makna kontekstual setiap kalimat dan menunjukkan diri sebagai ummat yang mengedepankan keilmuan ,rasionalitas,dan menggali sejarah dengan sedalam-dalamnya untuk mengetahui korelasi antara tekstual dan kontekstual.

Dimulai dari memeriksa makna wilayah yang telah di adopsi menjadi bahasa melayu dan indonesia,ia adalah batasan yang menjadi medan kekuasaan atau kepengurusan.

Maka dari kalimat wilayah muncullah kalimat wali yaitu orang yang memiliki kuasa untuk mengurusi wilayahnya. 

Wali songo adalah sembilan orang penda'wah di tanah jawa yang tersebar di beberapa wilayah utara jawa-tatar sunda yang menjadi tanggung jawabnya.
Mereka sering bertemu sehingga ketika mereka berhasil mengislamkan keluarga kerajaan demak bentoro,mereka di fasilitasi masjid demak oleh raden fatah untuk memusyawarahkan urusan ummat dan kenegaraan. 

Di rangkulnya dan di dukungnya islamisasi yang dilakukan mereka oleh raden fatah itu maka semakin mengenalkan kepopuleran wali songo.

Makna "wali" pun semakin extraordinary yaitu bertambah menjadi wali kerajaan di wilayah-wilayahnya.

Makna wali pada wali songo yang lebih kuat adalah wali dalam penyebaran islam yg memiliki wilayah-wilayah atau medan da'wah,bukan wali dalam konteks kebathinan. Analisa ini bukan berarti menuduh wali songo tidak mengamalkan amal-amal kebathinan.
Sebab kalau di maknai wali kebatinan maka perkara itu tak mudah apalagi langsung sembilan orang di nyatakan sebagai wali kebathinan secara bersama,lalu di keramatkan ruh dan makamnya dan di jadikan tempat beritual.
Cukup mengakui mereka sebagai penda'wah yang beraktifitas biasa dan zuhud menyendiri di kesunyian dan memiliki ilmu kanuragan tanpa mendewakanya sebagai sosok-sosok yang nguwalati ruhnya (khurafat).

Rabu, 04 Juli 2018

melihat Allah di dunia,mungkinkah ? dari artikel yang di muat di situs NU

http://www.nu.or.id/post/read/80975/melihat-allah-di-dunia-mungkinkah
Kehidupan surga merupakan suatu harapan yang didamba-dambakan oleh setiap manusia. Bayang-bayang kenikmatan surga banyak digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai balasan bagi siapa saja yang iman dan patuh kepada-Nya. Namun, ada sebagian kecil manusia yang cinta dan patuh kepada-Nya tidak lagi mendambakan surga, melainkan suatu nikmat yang lebih besar dari itu, yaitu “melihat Allah” (ru’yatullah). 

Salah satunya adalah Rabi’ah al-Adawiyah (W 135 H), seorang wanita yang terkenal taat dalam beribadah, dalam syairnya ia berkata : 

أُحِبُّكَ حُبَّينِ حُبَّ الهوَى ... وَحُبًّا لأنَّكَ أَهْلٌ ِلذاكا  
 فأمَّا الذى هُو حُبُّ الهوى ... فَشُغْلِى بذكرِك عَمَّنْ سِواكا  
 وأما الذى أنْتَ أهْلٌ لَهُ ... فَكَشْفُكَ لى الحُجْبَ حتَّى أَراكا 
فَلا اْلحَمْدُ في ذا ولا ذاكَ لِى ... ولَكِنْ لَكَ الحَمْدُ فِي ذَا وذاكا 

Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena rindu dan cinta karena diri-Mu 
Cinta karena rindu adalah kesibukanku yang senantiasa mengingati-Mu 
Dan cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu menyingkap tabir hingga kulihat-Mu. 
(Pujianku) ini-itu, bukanlah untukku, melainkan semua pujian tersanjung untuk-Mu 

Bait ketiga dari syair di atas, Rabiah Al-Adawiyah mengungkapkan cintanya kepada Allah SWT karena (kelak) ia akan melihat Allah, dan cinta seperti inilah yang paling tinggi derajatnya di antara kedua cinta di atas, tegas Imam Al-Ghazali. Lalu pertanyaannya apakah orang mukmin dapat melihat Allah, baik di dunia maupun akhirat? 

Ru’yatullah (melihat Allah) di Dunia 

Menurut Qadli Iyadh (w. 544H) melihat Allah di dunia adalah sesuatu yang jaiz menurut akal. Menurutnya hal ini tidak ada dalil syara’ secara pasti yang melarang akan hal ini, selain itu Allah adalah dzat yang wujud dan setiap yang wujud hukumnya jawaz dilihat (Al-Qadli ‘Iyadh, 2013: 249-250). Ia berargumen berdasarkan permintaan Nabi Musa AS kepada Allah agar ia bisa melihat-Nya, seperti dalam QS, Al-A’raf 143:

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. 

Merupakan suatu yang muhal bagi nabi apabila ia tidak tahu tentang sesuatu yang jaiz atau tidak bagi Allah. Oleh karena itu, permintaan Nabi Musa (melihat) kepada Allah adalah termasuk sesuatu yang ja’z bagi Allah dan bukan hal yang mustahil. Akan tetapi, permintaan Nabi Musa tersebut merupakan suatu permintaan yang gaib dan tiada yang mampu mngetahuinya melainkan bagi orang yang benar-benar telah diberi pengetahuan oleh-Nya. Maka Allah pun berkata kepada Nabi Musa (لن تراني) bahwa kamu tidak akan mampu (kuat) melihat-Ku. Lalu Allah mencontohkan sebuah gunung yang lebih kuat daripada Nabi Musa (dan gunung tersebut pun hancur). 

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Syekh Ibrahim Al-laqqoni dalam nadzam Jauharatu Al-Tauhid : 


وَمِنْهُ اَنْ يُنظَرَ بِاْلاَبْصار  #  لَكِنْ بِلَا كَيْفٍ ولا انْحِصار 
للمؤمنين اِذْ بجائزْ علّقت # هذا ولِلمُخْتار دُنْيًا ثبتَتْ 

Termasuk jaiz aqli adalah melihat Allah melalui mata kepala bagi orang mukmin, akan tetapi hal itu tanpa kaifiyah dan tanpa batas ata. Hal ini (melihat Allah di dunia) berlaku bagi orang terpilih (Rasulullah).  

Mengenai nadzam di atas, Syekh Ibrahim Al-Baiuri menjelaskan bahwa melihat Allah baik di dunia maupun di akhirat termasuk sesuatu yang jaiz aqli, karena Allah adalah dzat yangmaujud dan setiap yang maujud sah untuk dilihat, maka Allah sah untuk dilihat. Namun di dunia hanya berlaku bagi Rasulullah SAW saja. (Al-Bajuri, tt: 71). Selanjutnya mengenai khususiyah Rasulullah melihat Allah dengan kedua mata, dalam hal ini terdapat perbedaan di kalangan para ulama:  

Pertama, menguatkan pendapat yang menafikan ru’yah bil ‘ain bagi Rasulullah di dunia  

Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya, seperti berikut ini : 


وَأَمَّا " الرُّؤْيَةُ " فَاَلَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : " رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ " وَعَائِشَةُ أَنْكَرَتْ الرُّؤْيَةَ . فَمِنْ النَّاسِ مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَالَ : عَائِشَةُ أَنْكَرَتْ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ وَابْنُ عَبَّاسٍ أَثْبَتَ رُؤْيَةَ الْفُؤَادِ . وَالْأَلْفَاظُ الثَّابِتَةُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ هِيَ مُطْلَقَةٌ أَوْ مُقَيَّدَةٌ بِالْفُؤَادِ تَارَةً يَقُولُ : رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ وَتَارَةً يَقُولُ رَآهُ مُحَمَّدٌ ؛ وَلَمْ يَثْبُتْ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ لَفْظٌ صَرِيحٌ بِأَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ . وَكَذَلِكَ " الْإِمَامُ أَحْمَد " تَارَةً يُطْلِقُ الرُّؤْيَةَ ؛ وَتَارَةً يَقُولُ : رَآهُ بِفُؤَادِهِ ؛ وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ إنَّهُ سَمِعَ أَحْمَد يَقُولُ رَآهُ بِعَيْنِهِ ؛ لَكِنَّ طَائِفَةً مِنْ أَصْحَابِهِ سَمِعُوا بَعْضَ كَلَامِهِ الْمُطْلَقِ فَفَهِمُوا مِنْهُ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ ؛ كَمَا سَمِعَ بَعْضُ النَّاسِ مُطْلَقَ كَلَامِ ابْنِ عَبَّاسٍ فَفَهِمَ مِنْهُ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ . وَلَيْسَ فِي الْأَدِلَّةِ مَا يَقْتَضِي أَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ وَلَا ثَبَتَ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ وَلَا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ ؛ بَلْ النُّصُوصُ الصَّحِيحَةُ عَلَى نَفْيِهِ أَدَلُّ ؛ كَمَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ { عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ : سَأَلْت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ رَأَيْت رَبَّك ؟ فَقَالَ : نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ } 

Ibarat di atas dapat dipahami bahwa Ibnu Taimiyah menafikan ru’yah bil ain bagi Rasulullah (di dunia) dengan dasar: 

- Keterangan yang sahih dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa “Rasulullah SAW, telah melihat tuhannya dua kali dengan hatinya”. Sedangkan Aisyah menafikan adanya ru’yah. Sehingga kedua keterangan tersebut jika dijam’u (dikompromikan) adalah “Aisyah mengingkari adanya ru’yah dengan mata, sedangkan Ibnu Abbas menetapkan adanyaru’yah dengan hati.” 

- Keterangan-keterangan dari Ibnu Abbas tidak ada satu pun redaksi yang sharih yang menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melihat Allah dengan mata kepala, melainkan redaksinya bersifat mutlaq ( رأى محمد ربه) atau ada yang di-qayyidi dengan kata bi fu’adihi(dengan hatinya). Begitu pula keterangan yang diambil dari Imam Ahmad. 

Dengan demikian, menurut Ibnu Taimiyah, tidak ada dalil yang menuntut adanya ru’yah bil ainbagi Rasulullah (di dunia), baik Al-kitab Al-sunnah, maupun keterangan dari sahabat. Namun justru yang ada adalah adanya hadis sahih yang menafikan hal itu, seperti hadis yang diriwayatkan dari Abi Dzar;  

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ « نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ ». 

Dari Abi Dzar berkata, aku bertanya Rasulullah, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu? Rasulullah menjawab “Cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya.” 

Kedua, menguatkan pendapat yang menetapkan adanya ru’yah bil ain bagi Rasulullah di dunia 

Di antara yang berpendapat tentang hal ini adalah Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim-nya, setelah  ia memaparkan penjelasan Al-Qadli ‘Iyadh dan Sahibu At-Tahrir tentangru’yah, bahwa pendapat yang kuat menurut mayoritas ulama, ia berkata;
  
فَالْحَاصِل أَنَّ الرَّاجِح عِنْد أَكْثَر الْعُلَمَاء : أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ بِعَيْنَيْ رَأْسه لَيْلَة الْإِسْرَاء لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره مِمَّا تَقَدَّمَ . وَإِثْبَات هَذَا لَا يَأْخُذُونَهُ إِلَّا بِالسَّمَاعِ مِنْ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا مِمَّا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُتَشَكَّك فِيهِ 

Kesimpulannya: bahwa pendapat yang kuat menurut mayoritas ulama adalah sesungguhnya Rasulullah SAW, melihat Tuhannya dengan dua mata kepala pada malam Isra’ berdasarkan hadis Ibnu Abbas dan lainya seperti yang telah disampaikan. Dan mereka (mayoritas ulama)dalam menetapkan hal ini tiada lain kecuali berdasarkan (keterangan) yang didengar dari Rasulullah SAW, ini merupakan hal yang tidak pantas untuk diragukan. 

Selain Imam An-Nawawi, Ibnu Abbas (menurut keterangan yang mashur darinya), Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dan sebagainya juga menetapkan ru’yah bil ain bagi Rasulullah (di dunia) seperti diutarakan oleh Al-Qurtubi dalam  Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, Vol VII, hlm 52, sebagai berikut :
وعن ابن عباس أنه رآه بعينه، هذا هو المشهور عنه. وحجته قوله تعالى:" ما كَذَبَ الْفُؤادُ ما رَأى ". وقال عبد الله بن الحارث: أجتمع ابن عباس وأبي بن كعب، فقال ابن عباس: أما نحن بنو هاشم فنقول إن محمدا رأى ربه مرتين. ثم قال ابن عباس: أتعجبون أن الخلة تكون لإبراهيم والكلام لموسى، والرؤية لمحمد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وعليهم أجمعين. قال: فكبر كعب حتى جاوبته الجبال، ثم قال: إن الله قسم رؤيته وكلامه بين محمد وموسى عليهما السلام، فكلم موسى ورآه محمد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وحكى عبد الرزاق أن الحسن كان يحلف بالله لقد رأى محمد ربه. وحكاه أبو عمر الطلمنكي عن عكرمة، وحكاه بعض المتكلمين عن ابن مسعود، والأول عنه أشهر. وحكى ابن إسحاق أن مروان سأل أبا هريرة: هل رأى محمد ربه؟ فقال نعم وحكى النقاش عن أحمد بن حنبل أنه قال: أنا أقول بحديث ابن عباس: بعينه رآه رآه! حتى انقطع نفسه، يعني نفس أحمد. وإلى هذا ذهب الشيخ أبو الحسن الأشعري وجماعة من أصحابه (أن «3» محمدا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) رأى الله ببصره وعيني رأسه 

Keterangan dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah SAW melihat Tuhannya dengan kedua matanya, ini merupakan keterangan yang masyhur darinya, ia berhujjah dengan fiman Allah QS, Al-Najm 11, 

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.’’ 

Abdullah bin Harist berkata; telah berkumpul Ibnu Abbas dan Ubay bin ka’ab, kemudian Ibnu Abbas berkata: adapun kami Bani Hasyim berkata sesungguhnya Muhammad Saw telah melihat Tuhannya dua kali, lalu Ibnu Abbas berkata lagi: tidakkah kalian kagum sesungguhnya (gelar) al-khalil bagi Nabi Ibrahim, dan al-kalim bagi Nabi Musa sedangkan melihat Allah diperoleh Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Kharist berkata: maka bertakbirlah Ka’ab, lalu ia berkata; sesungguhnya Allah telah membagi ru’yah dan kalam-Nya antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS, Allah berbicara kepada Nabi Musa AS dan memperlihatkan Nabi Muhammad SAW kepada-Nya. 

Abdul Rozaq telah bercerita sesungguhnya Al-Hasan telah bersumpah atas nama Allah sesungguhnya Muhammad telah melihat Tuhannya. Dan Abu Umar Al-Tholamankiy telah meriwayatkannya dari Ikrimah, dan sebagian mutakallimin meriwayatkannya dari Ibnu Mas’ud, sedangkan riwayat pertama lebih mashur. 

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan sesungguhnya Marwan bertanya kepada Abu Hurairah “Apakah Muhammad telah melihat tuhannya?” Abu hurairah menjawab “ya”. 

An-Naqqosyi telah meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, sesungguhnya ia berkata; aku berkata berdasarkan hadisnya Ibnu Abbas “dengan matanya ia (Muhammad) telah melihat Tuhannya” sampai-sampai napas-napas (Imam Ahmad) terputus (ketika mengatakannya). 

Dan sesuai pendapat inilah pendapatnya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari beserta sekelompok sahabatnya sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah melihat Allah dengan penglihatan melalui kedua mata kepalanya. 

Namun, bagi yang menetapkan adanya ru’yah, menurut Said Faudah, bukan berarti Rasulullah mengetahui hakikat Allah, akan tetapi bertambahnya idrak (memahami dan mengenal) kepada Allah pada diri Rasulullah, dan idrak ini pun tidak sampai pada batas ihathah (meliputi) terhadap kesempurnaan Allah SWT (Said Faudah, tt: 632). Di samping itu ihktilaf di antara para sahabat hanya terhadap “terjadinya ru’yahpada diri Rasulullah di dunia” bukan mengenai ke “jawaz”an ru’yah di dunia, karena tidak ada keterangan sahih yang menjelaskan adanyaikhtilaf di antara sahabat mengenai “kejawazan” ru’yah di dunia, tegas Said Faudah. 

Ketiga, tawaqquf di antara keduanya 

Di antara ulama yang menguatkan hal ini, menurut Ibnu Hajar adalah Imam Al-Qurtubi di dalam kitabnya Al-Mufham karena menurutnya tidak ada dalil pasti yang menjelaskan masalah ini, di samping itu, masalah ini  adalah masalah “keyakinan” maka dibutuhkan adanya dalil qat’i(Ibnu Hajar, Vol VIII : 608). (Khifni Nasif, Sekretaris Aswaja Center GP Ansor Kudus, Pengajar di Madrasah Diniyah Darul Ulum Ngembalrejo Kudus)

Kamis, 21 Juni 2018

jangan bilang NU itu syiah karena sedikit kesamaan kultur,tapi disusupi.

Menjawab statement nahdliyyin yang simpatik pada syi'ah karena masuk doktrin kesamaan kultur yang sangat kecil.

Oleh Nur s :

Bahayanya warga NU itu selalu bingungan.
Karena syubhat habaib dan taqiyahnya.

NU itu syi'ah !? "Tidak", NU itu sunni.

NU bukan syi'ah.
NU adalah sunni. 
Sunni itu assukutu diam dari pertikaian sahabat.
Sunni itu menerima ali ketika di pimpin.
Sunni itu menerima aisyah dan hafshah sebagai ummahatul mu'minin dan mencela para pembencinya.
Sunni itu menerima dan mengakui kekhalifahan abu bakar umar utsman ali.
Sunni itu mendukung perdamaian antara ali/hasan dengan muawiyah.
Sunni itu mentaati pemimpinnya tidak jadi pemberontak seperti syi'ah dan khawarij. 
Sunni mendukung khilafah islamiyyah dari bani umayyah-bani abbasiyah-utsmaniyah.

Syi'ah itu sesat dari jama'atul muslimin karena dia memisahkan diri,fanatik keturunan dalam kewalian. 
Termasuk syiah zaidiyyah,walau beda dengan rafidhah dan ghulat. 

Syi'ah zaidiyyah terhadap abu bakar,umar dan utsman memang memuliakan karena persahabatannya dengan rasulullah dan pengorbananya untuk islam.
Tetapi syi'ah zaidiyyah tetap bersikap tidak menerima kekhalifahan mereka.

Kesesatan yang selanjutnya adalah kefanatikan syi'ah itu sampai kepada kuburan dan kultur2 yang menyelisihi dalil.

Didalam mazhab asy-syafi'i, ada di bolehkan bid'ah hasanah atau kultur tetapi disyaratkan dengan tidak menyelisihi dalil.

Syi'ah inilah yang lantang meneriaki seseorang dengan nisbat wahhabi dari dalam NU.

12 imam syiah itu tidak sesat.
Konsentrasi kita bukan pada 12 imamnya saja. Tapi 12 imam itu di manfaatkan untuk menjadi wasilah kesesata syi'ah.
Adapun jika sunni secara kebathinan berguru kepada 12 imam maka di khawatirkan menjadi kaum yang tasyayyu dan menjadi corong masuknya syi'ah yg sulit di filter. 

Adapun ucapan beb luthfi yang membolehkan berimam kepada itsna asyariyah itu juga di eksploitasi syiah untuk mengkaccau warga NU agar membela-bela syiah karena ada kesamaannya. 
Dan ini fakta. 

Setelah syiah sukses memasukkan doktrin kesamaan kultur dengan NU lalu diajaklah warga NU untuk anti saudi dan pelajar lulusan dari sana.
Itu berhasil. 

NU membukan Pintu hidayah buat syi'ah dimananya padahal syiah faktanya malah menyesatkan banyak warga NU.
NU membuka lebar buat syi'ah tapi malah warga NU ikut syiah teriak2 wahhabi.
Harusnya NU bertanya siapa yg di teriaki wahhabi oleh syi'ah itu ?
Saya pernah buka kitab syiah "amali shaduq" dia menyebut wabbahi itu bahasa baru bagi sunni.
Sedikit kritis denganya langsung di teriaki "wahhabi".
NU dan salafi/wahhabi menurut alm.kyai mustafa ali yaqub itu sunni yg beda dalam masalah furu' fiddiin.

Dengan syiah welcome dengan salafi menjauh. 
Ini jadi beban pikiran. 
Padahal banyak marjak NU yang lebih cocok dengan salafi.

sudah bukan zamannya mendukung ali ra. karena sudah tiada kepemimpinan ali dan dzurriyyahnya.
Begitupun dengan dukung mendukung muawiyah. Sudah bukan zaman lagi.
Karena zaman sudah di damaikan pada masa hasan-muawiyah yg disebut sebagai zaman 'AAMUL JAMA'AH (tahun persatuan) oleh sunni.
Maka mentaati dan sabar dengan tidak memberontak imamah maka itulah ahlussunnah wal jama'ah.

aswaja tidak pernah ada hubungannya dengan imamah itsna 'asyariyah.
Aswaja tidak pernah membai'at para imam itsna 'asyariyah.
Jika kata luthfi monggo imam itsna 'asyariyah, itu artinya ada penggiringan sunni menuju kesyi'ahan olehnya (tasyayyu).

Luthfi menyebut syiah itu pengikut/pendukung bukan madzhab,wajar jika anak cucu ali dukung ali ra.
Bahasa yang begini justeru menguak dirinya bahwa ia itu syiah tapi tidak berperilaku ghulat dan mencela sahabat seperti umumnya syiah,tetap syi'ah to namanya.
Kalau dia sunni seharusnya tidak memupuk kebencian yang sudah kadaluarsa. Sulit mempercayai habib kecuali sedikit saja.

Sunni dalam siyasah kepemimpinan itu oleh ulama telah jelas di sebutkan ia mencari keselamatan dengan berdiam dari wuq'atul shiffin dan wuq'atul jamal dan pertikaian2. di bahasakan "wuq'ah" bukan qital harb apalagi irhab,karena kejadian itu dinyatakan sebagai zaman fitnah.
Memberi bai'at tha'at atau minimal tawqif kepada para khalifah.
Berkelanjutan sampai kepada pemerintahan bani umayyah bani abbas dan utsmaniyah.

Di rangkul dan disusupi itu beda.
Kalau di rangkul maka perangkul harus lebih kuat.
Kalau disusupi maka ada usaha penyelewengan melalui titik2 kesamaan yang tidak disadari.

Gerakan 212 disusupi oleh syi'ah tapi karena 212 itu terlalu kuat maka syi'ah mental dan menampakkan aslinya.
Adapun usaha persatuan ummat itu tidak membawa isu perpecahan,tidak berpidato kesyi'ahan didalamnya karena jika itu terjadi maka mustahil tercipta satu unifikasi islam.
FPI misalnya,saya yakin ada sel sel syi'ah yang mukim didalamnya tapi upaya persatuan yang harus diwujudkan maka dia harus menahan ucapan provokatif yang bisa mengoyak persatuan.

Artinya,persatuan atau jama'atul muslimin itu akan terealisasi lagi jika mereka melepaskan segala sifat ta'asub yang telah memecah belah ummat.

Kalau didalam kitab tasyri'ul islami,syi'ah itu di sebut madzhab siyasi.
Saya tidak soalkan sebutan sebutan,karena yang dimaksud itu sama,baik itu sebutan madzhab siyasi juga pengikut dan pendukung.

Di bagian akhir pidatonya,dia malah marah2 apabila ada yang sebut NU itu syi'ah.
Terus yang menyebut NU adalah syiah itu siapa ?
Bukankah orang2 syi'ah dan NU yg bingungan yang menyebut NU itu syiah karena sedikit kesamaan kultur.

Penyusuplah yang getol mensyi'ahkan faham nahdliyin.



Adapun masalah muawiyah dan aisyah sehingga terbunuhnya beberapa sahabat baik dipihak ali juga muawiyah itu oleh sunni dinyatakan sebagai zaman fitnah.

Muawiyah dan yazid dan bunda aisyah memang terkenal membangkang dari kepemimpinan ali karena banyak sebab.
Diantara sebab2 itu adalah bunda aisyah menangis dan tak berani menghadap rasulullah karena fitnah yg menimpanya dan ali ra. Nampak membenci aisyah ra. Ketika dimintai pendapat rasulullah.

Adapun muawiyah yang juga sahabat yg punya pengorbanan dan memperluas futuhat dia membangkang karena terbunuhnya utsman bin affan yang kurang dapat perhatian dari khalifah ali.
Ali lebih memikirkan situasi dan kondisi internal ummat yang merepotkan.

Kita sunni adil menilai dan mengomentari masalah sahabat.
Dengan doa semoga yang salah di maafkan Allah dan yang benar di beri kemuliaan.

Tahun jamaah itu terjadi ketika hasan menyerahkan kepemimpinan kepada muawiyah,sehingga keadaan mulai kondusif di pimpin muawiyah,walau memang muawiyah selalu mengganggu kepemimpinan hasan bin ali ra.
Semua di maafkan.
Pada masa muawiyah inilah ummat bersatu sampai berakhirnya khilafah bani umayyah dan di lanjut khilafah bani abbasiyah.
Terhadap kesalahan dan keburukan pemimpin oleh rasulullah menganjurkan ummat untuk bersabar.
Biarlah yazid itu jelek,ummat dintekankan untuk menahan diri.
Kau sibuk melaknati.

Titik.

'Aamul jamaah saja tak ngerti.
Gitu merasa jadi ahli sejarah,ngaku sunni ?
Gitu kok mau sebut NU itu syi'ah/syi'ah itu NU.
jangan Kurang hajar yha...

Beb luthfi itu bukan tokoh sentral NU yang jadi ukuran kebenaran.

Beb luthfi itu ketua jatman yang numpang di NU agar dapat legitimasi jama'ah tharekatnya.

Secara khutthah dan ad/art,tasawwuf NU itu mengambil referensi imam al-ghazali dan imam junaedi.
Tidak ada tarekat jatman.

Jatman hanya minta dipayungi NU.

Jadi kalau bicara soal keNUan,jangan beb luthfi yg jadi ukuran.
Banyaj kyai2 yg tsiqqah keNUanya yg tak sefaham dengan beb luthfi.

Senin, 21 Mei 2018

Toleransi santri atas khilafiyah dan memahami seruan Hizbut tahrir

By: Nur s.
Menjawab kecurigaan dan tuduhan nahdliyin yang ikut-ikutan :

Saya tidak terlalu membenarkan persepsi salafi.
Tapi saya menelusuri maksud salafi yang keliru mengucapkannya. Kekeliruan bahasa penyampaian itu terjadi dimana2. Saya tidak terpancing provokasi sentimental keagamaan. Saya lebih menggunakan disiplin keilmuan sebagai seorang santri yang di ajarkan adab bicara dan beramal.

Salafi punya pendapat yang kebetulan bersinggungan dengan tradisi lokal yang di lestarikan NU. Sesungguhnya persepsinya adalah ranah agama. Dia islam NU juga islam.
NU tersinggung itu saya ma'lum tapi tidak di maklum apabila keluar batas dalam sikap.
Imam ahmad dan malik malahan didalam bulughul maram oleh ulama syafi'iyyah sendiri qunut subuh itu muhdats/bid'ah.
Itu haq berpendapat.
Lalu NU marah menyangkal itu juga haq. Asal tidak berperang fisik. 
Tahlilan kematian di hari2 tertentu dalam kultur jawa di lestrikan NU yang menurut muslim lain hal itu di nyatakan sebagai kebid'atan,itu boleh di sampaikan. 
NU marah,boleh,tapi disiplin keilmuan juga harus di prioritaskan sehingga tercipta saling mengerti dan tidak ada tindakan instabilitas. 
Faham tak maksudnya?

Ketika gusdur mencari makna negara islam,yang di temui adalah cara pengangkatan imamnya lalu gusdur menyebut tidak menemukan konsep negara islam dan berakhir menginkari negara agama (islam).

Dia meneliti sistem pengangkatan imam bukan meneliti kedaulatan dan keimamahan.
Sistem pengangkatan imam memang selalu berubah-ubah tapi dengan begitu tidak pernah di ajarkan oleh nabi untuk tidak mengangkat imam.
Urgensinya dan yang di tekankan adalah muslimin harus nashbul imam.
Memang yang paling baik adalah melalui ahlul hall wal 'aqd. Kemudian ummat memberikan baiat ta'at. Apabila sudah di umumkan tentang keimamahan maka suka atau tidak suka maka ummat wajib ta'at dan tidak boleh melakukan usaha kudeta atau usaha membai'at pemimpin sendiri.
Ini haram,sebagaimana sabda nabi من أتاكم وامركم جامع على رجل واحد يريد أن يفرق جماعتكم فاقتلوه.
Dalil ini mafhumnya adalah nashbul imamah adalah wajib.
Adapun tentang daulah adalah meliputi teritorial, dustur,imam dan ra'iyyah.

Apakah warga NU tidak boleh jujur ?
Bukankah antum dan sekelompok antum yang paling getol menuduhi HT dekat dengan muktazilah,halalkannonton porno,cium anjabi, dst..
Maka sebagai santri saya harus melihat fakta tanpa ikut2an menyebarkan fitnah.
Ini adalah ciri santri.
Kenapa saya terkesan mendukung HT? 
Karena di pesantren saya dan antum di ajarkan sistem islam,di bacakan kitab sirah nabawiyyah dan tasyri'ul islam/legitimasi hukum islam dan di bacakan sejarah imaratul islam/imamah/khilafah baik kejayaannya dan keruntuhanya.

Santri NU tidak mesti nggih-nggih saja terhadap penyimpangan ,karena itu santri dalam NU itu sendiri terbelah-belah fahamnya,ini ma'lum. 
Gus najih saja misalnya beliau sangat tegas dan konsisten,tidak pagi dele sore tempe. 
Lutfi basori,dll.
Nahdliyin madura malah dominan berafiliasi kepada fpi/alawiyyin.

NU bukan syi'ah tapi banyak yg bermesraan dengan syi'ah,NU bukan pki tapi warganya ada yang berafiliasi pki,NU bukan ahmadiyah tapi melindungi kebebasan, NU geram hanya karena bersinggungan denga hal2 yg remeh furu fiddin dengan muhammadiyah salafi PKS al irsyad persis HT.
Kok bisa begitu?

Sebetulnya kalau bicara imarah maka hal2 keagamaan yang sifatnya zhanni itu tidak essential. 
Tapi biasa buat senjata melelahkan. 
Saya tidak temukan bukti kalau HT hendak berbuat kudeta/memberontak dsb.

Mungkin antum baru kenal kalimat THALABUN NUSHRAH bagi thariqah HT. 

Uniknya,NU bilang tidak anti khilafah tapi menolak khilafah.
NU anti sistem kafir tapi menikmati system kafir.
Itu ambiguitas yang sangat luar biasa.

Ini adalah da'wah tingkat global.
Tak mungkin HT merebut indonesia dengan jalan kekerasan padahal senjata saja tak punya.
Harakah da'wah HT ini sama seperti madrasah yang mentarbiyah dan ta'lim.
Tapi konsentrasinya adalah ideologi. 

Lho mana yang sesat.
Bukankah peradaban islam itu haq di sampaikan dan di opinikan? 
Wong kita ini islam.
Negara sesuai sunnah adalah Al-imamah/al-imarah/al-qiyadah/al-khilafah al-'uzhma.
Ulama sepakat ummat ini mempertahankan imamah dan mengangkat satu imam ummat islam fii jamii'iddunya.
Global khusus islam bukan diartikan global umum.
Kalau global secara umum berarti negri2 kafir seperti china dan usa eropa harus  di paksa,tidak begitu. Negri kafir masuk kedalam medan da'wah.

Apakah khilafah versi HT?
Tidak. HT itu harakah di zaman kekosongan dan pembodohan.
Ketika ideologi islam tidak di munculkan maka ummat islam di seluruh dunia tertarik ideologi demokrasi dan komunis. Ini memprihatinkan.
Ketika kafir berjaya dengan keilmuanya dan kemiliteranya,islam malah jadi boneka yang dipermainkan.
Pecah menjadi negri2 kecil, harta negara di rampas,ummatnya di tindas,kebebasannya di ganggu.
Keadaan yang seperti ini yang di pikirkan oleh syabab HT.
dunia islam tak berdaya karena tidak punya imam yang satu dan negara yang satu.

Apa itu negara yang satu ?
Negara yang satu kepemimpinan itu tidak memecah justeru menguatkan, tidak menghilangkan peta indonesia dan tidak merebut indonesia tetapi indonesia bagian dari wilayah yang di persatukan.
Indonesia dengan begitu maka masuk kedalam provinsi daulah islam khilafah (الولاية الدولة الخلافة) yang pemimpinnya disebut wali khilafah.
Seruan ini bagian da'wah yang tujuannya adalah menguatkan syi'ar,melindungi ummat islam dari ancaman musuh,memberikan keadilan yang merata bukan arab saja yang kaya tapi kekayaan alam itu milik daulah yang di belanjakan secara rata.

Siapa calon khilafah?
Pertanyaan nyinyir ini lugu,tapi perlu di jawab.
Yaitu seperti halnya NU,untuk mengangkat pimpinan maka harus di adakan muktamar internasional.
Sebelum di helat muktamar/konferensi maka da'wah ideologi ini harus masif di lakukan demi pendekatan dan mengajak ulama dan elite bangsa yang mau bergabung.

Cara ini sangat rapi dan jauh dari tindakan teror yg kejam.

Syukran 👍.
HT sebenarnya sudah membaca sikon lek. Tapi yang namanya da'wah kan harus istiqamah. Tidak boleh membunuhnya.
Saya bilang sebuah ambiguitas kepada saudara2 NU yang tidak inkar khilafah dan berusaha baik kepada harakah da'wah khilafah sepert HT tapi mendukung pembubaran malah yang paling getol.

Ummat ini tahu kalau NU adalah organisasi yang paling sulit konsistennya kata orang jawa esok dele sore tempe.
Dulu di era soekarno soeharto NU berasas islam,anti pemerintah,sampai jadi PNS saja emoh,pesantren dipertahankan salafnya karena takut tertular virus sekularisme dan phobia islam.
Itu era NU yang mayoritasnya pro islam.
Lalu NU berubah karena kursi2 strukturalny di isi oleh nahdliyin nasionalis yang dekat dengan ideologi nasakom.
Sampai sekarang NU struktural tidak akan di biarkan terisi oleh para santri/kyai kultural fundamental.
NU struktural yang pro nasakom itulah yang merubah khitthahnya.

Sementa NU kultural dapat doktrin dari alawiyyin yang lebih dekat dengan syi'ah yang punya misi tsaurah/revolusi islam atau bahasa mereka syi'ah punya misi al-wiyataul faqih yang pimpinannya disebut al-waliyyul faqih sebagai pemimpin tertinggi yang harus di taati.

Ternyata yang lebih mesra dengan syi'ah adalah warga NU baik dalam culture maupun pendekatan2 yang lainya seperti kerjasama pendidikan dan kebudayaan.
Said aqil mengajak warga NU untuk bisa hadir di perayaan syiah seperti asyura,arba'in.
Bahkan sampai said aqil mengGoblok-goblokkan warganya sendiri.

Belum cukup saya tuliskan kalau tuduhan antum pada HT itu justeru terjadi pada keluarga besar antum sendiri.

Lain waktu saya akan tanya jawab tentang kedekatan antara NU-syi'ah.

Apakah antum akan pasrah dengan kenyataan.
Semua tuduhan warga NU kepada sunni yang lainya itu kegagalan.

Minggu, 29 April 2018

memaknai sifat-sifat Allah secara zhahir itu di benarkan karena tidak tasybih pada makhluq dan tidak tajsim

Ulama salaf itu sudah berbeda-beda dalam persepsi,
Itu haq.
Antum tidak boleh melarang.
Tinggal sebut salaf siapa yang di ikuti.
Salaf syi'ah atau salaf sunni.
Syiah yg mana dan sunni yang mana.

Apakah saya mutlaq menggunakan asumsi pribadi?
Anda bukan orang yang fahim dalam memikirkan masalah agama ini.
Orang yg bacaanya banyak maka dia bisa menyimpulkan dari berbagai bacaan dan disiplin ilmu.
Orang yang gagal maka ia hanya menjadi muqallid sudah muqallid,menyalahkan. 

Antum tidak akan bisa membuktikan dihadapan orang ramai dan di hadapan orang faham terkait tuduhan antum yaitu mujassimah dan musyabbihah.

Al-qur'an yang mengabarkan Allah istawa 'alal 'arsy,punya dua tangan,punya kursi,dst.

Lalu antum ta'wil,apakah ta'wil ijmali atau ta'wil tafshili (majaz) keduanya adalah zhanni bukan qath'i.

Antum tuduh bahwa makna zhahir dan haqiqat rububiyyah/uluhiyya adalah makna tasybih dan tajsim.
Antum katakan Allah tak bertangan dan bermata,dst.
Antum justeru menyelisihi zhahirul lafzhi wal ma'na.
Antum serupakan Tuhan dengan malaikat karena sama tak berkelamin,tak makan,tak tidur ??

Saya katakan kepada antum,bahwa dzat ketuhanan tidak sama dengan dzat makhluq, begitu juga dengan sifat-sifat lainya baik khabariyyah,af'aliyyah, uluwiyyah, ...

Hei kalian yg merasa aswaja padahal aswaja bukan madzhab yg di klaim oleh sebelah pihak saja.
Faham tak ?
Apakah kalian masih tak faham,bahwa menetapkan sifat af'al dan khabariyah Allah kalian tidak protes tapi ketika menetapkan sifat dzatiyah dan uluwiyyah Allah kalian protes,
Kalian tuduh tasybih.
Justeru kalian yang inkar haqiqat sifat2 uluwiyyah dan dzatiyah Allah maka antum ini ta'thil,produk gagal.
INI SATU KEGAGALAN FAHAM.

الأشاعرة يثبتون الصفات مثل الاستواء و اليد على مراد الله و يفوضون المعنى لله عز وجل . 
و لهذا أنكر الأشعري على المعتزلة نفيهم لليد و غيرها من الصفات .
Asya'irah menetapkan sifat seumpama istiwa dan tangan atas kehendak Allah dan mereka menyerahkan ma'na kepadanya saja.
Karena ini maka asya'irah inkar atas mu'tazilah yang menafikan tangan Allah dan sifat-sifat lainya baik dzatiyah,khabariyah,af'al dan uluwiyyah Allah.

و بعض الأشاعرة بعد تفويضهم المعنى لله عز وجل يبحثون عن تأويل تقبله اللغة باعتباره يمكن أن يكون هو المعنى الحقيقي .
و المقصود بـ ( صفة معنى ) هو نفي التجسيم و الأعضاء و الجوارح .
Sebagian asya'irah setelah tafwidh ma'na kepada Allah, mereka mencari ta'wil yang dapat di terima yang memungkinkan kepada ma'na haqiqi. 
Adapun yang di maksud dengan sifat ma'na yaitu menafikan tajsim dan jawarih bagi Allah. 
YA'NI, ORANG YANG MEMA'NAI SIFAT DZATIYAH DAN LAINYA SECARA HAQIQAT SELAMA TIDAK TAJSIM DAN JAWARIH MAKA ITU BUKAN TASYBIH/TAMTSIL ALLAH KEPADA MAKHLUQ. 

فإذا كنت تثبت ( اليد ) صفة ذاتية وليست عضوا و لا جارحة ، فكلامك هو كلام الأشاعرة ، لأن هذا هو المقصود عندهم بـ ( صفة معنى ) . 
Maka ketika engkau menetapkan sifat dzatiyah "tangan" namun bukan bermaksud tangan anggota tubuh dan bukan bermaksud tangan jarihah/hissiyyah yang dapat di rasa dan dirasa dengan indera,maka itulah kalam asya'irah.

وقال الأشعري أيضاً في ردِّ تأويل الصفات: "مسألة: قد سئلنا: أتقولون إن لله يدين؟
قيل: نقول ذلك بلا كيف، وقد دلَّ عليه قوله تعالى: يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ [الفتح: 10]، وقوله تعالى: لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ [ص: 75].
Berkata Al-Asy'ari dalam menolak ta'wil : pada satu soal yang di tanyakan kepadaku : apakah mereka berkata bahwa Allah punya dua tangan? 
Maka di jawab: yang demikian itu tanpa kaif,...

Sabtu, 28 April 2018

menghukum ucapan rasulullah dengan hukum zhahir dan hukum bathin

Ucapan nabi itu mesti di pandang dengan dimensi zhahir dan bathin.
Sudut fiqih dan sudut aqidah/teologi. 

Didalam al-Qur'an berulang-ulang kali di sebutkan bahwa rasul itu di utus sebagai juru da'i ilallaah yang ucapannya menghibur bagi ummat yang beriman dan ber'amal shaleh, ucapannya juga memperingatkan bagi ummat yang zhalim kafir dan berma'shiyat.
وما نرسل المرسلين إلا مبشرين ومنذرين.
إنا أرسلنك بالحق بشيرا ونذيرا. 
Secara dimensi fiqih/zhahir,ancaman rasulullah itu makruh tahrim yang dalam bahasa ushul fiqihnya adalah ما نهى عنه الشارع نهيا غير جازم yaitu terlarang yang tidak pasti. Terlarang sendiri sinonim haram.
Adapun memutuskan tali shilaturrahim itu haram yang pasti نهي الشارع نهيا جازما karena perbuatan ini haram secara syara' yang datangnya dari Allah.
Dalile para kyai golei kiambak. 
Namum Allah itu maha adil sebab walau seseorang itu memutuskan tali shilaturrahim tetapi ada banyak amal shalih yang patut jadi pertimbangan,maka Allah akan menimbangnya 
والوزن يومئذ الحق فمن ثقلت موازينه فأولئك هم المفلحون. ومن خفت موازينه فأولئك الذين خسروا أنفسهم...إلخ 
Apabila bahasa sudah sampai kepada aqidah/teologis maka urusannya menjadi otoritas Allah.

 «إن أحدكم إذا مات عرض عليه مقعده بالغداة والعشي إن كان من أهل الجنة فمن أهل الجنة وإن كان من أهل النار فمن أهل النار يقال هذا مقعدك حتى يبعثك الله يوم القيامة».

Ma'na zhahir sifat Allah itu di benarkan karena ia tidak menyerupakannya dengan makhluq dan tidak tajsim seperti jisim makhluq

Nur s:

Saya iman bahwa Allah punya mata telinga dan tangan.
Bagi orang yang belum kenal ilmi etimologi dan terminolog maka dia akan menuduh bahwa saya adalah mujassimah atau meyakini Allah punya jisim. Itu sifat terburu-buru karena belum masuknya pengetahuan tentang bahasa.
Maka sekarang saya akan bertanya kepada mereka begini :
Apakah Allah punya penglihatan/pendengaran/kehendak ?
Jika mereka jawab TIDAK justeru mereka terjerumus kepada aqidah ta'thil yaitu mengosongkan Allah dari sifat ketuhananNya.
Manusia memang mudah terjebak bahasanya sendiri. 
Jika saya meyakini mata Allah itu seperti mata mahkluk,telinga Allah seperti telinga manusia maka inilah yang salah.
Jika mereka mengatakan Allah tidak punya tangan karena tangan adalah jisim Makhluq,mustahil Allah serupa dengan Makhluq yang tajsim. Mereka lupa kalau cacing dan ular itu tak bertangan,apakah mereka juga menyerupakan Allah dengan cacing/ular ? Inilah jebakannya yang tak pernah disadari. 

Kita sangat perlu mempelajari atau sekedar mengenal ETIMOLOGI dan TERMINOLOGI dalam ilmu bahasa.

etimologis mencoba untuk merekonstruksi asal usul dari suatu kata - ketika mereka memasuki suatu bahasa, dari sumber apa, dan bagaimana bentuk dan arti dari kata tersebut berubah.

Terminologi  atau peristilahan adalah ilmu tentang istilah dan penggunaannya. Istilah(Arab: اصطلاح‎, istilah) adalah kata dan gabungan kata yang digunakan dalam konteks tertentu. Kajian terminologi antara lain mencakup pembentukannya serta kaitan istilah dengan suatu budaya.
Contoh KUPING orang jawa sebut demikian karena bentuknya yang KAKU NJEPIPING.kuping adalah terminologi dan kaku NJEPIPING adalah etimologi.

Ada dua yang menjadi perhatian saya,yaitu kaif dan kalimat bermakna yang di contohkan yadun  (tangan).

 Allah punya kaifiyyah jika yang di maksudkan adalah bukan istiham tetapi مشيئة الله maka itu haq bagi Allah. 
Yang terlarang adalah menanyakan kaifiyyah Allah pada bagaimana istiwaknya.

Kedua,tentang yadun yang di maknai zhahir adalah tangan,juga benar jika konteksnya didasari pemahaman terminologi. 
Maksudnya adalah kalimat yadun يد itu musytarak مشترك yang dia punya makna asal yang kemudian di rubah sesuai adat dan kebutuhan. Ini di namakan rekonstruksi bahasa etimologi berdasarkan istilah terminologi. 
 يد atau tangan itu maksudnya adalah kekuasaan/kehendak  قدرة إرادة وأفعال.
Kita wajib mengimani Bahwa Allah itu kuasa,berkehendak dan berbuat dengan sifat ketuhananya.

Maka selama yang di maksudkan adalah tidak menyerupakan kaifiyyah Allah dan yadullah pada makhluq maka keyaqinan ini dapat di benarkan.

Sekarang tunjukkan keterangan keyaqinan  الله موجود بغير مكان ؟ 
Apakah antum menjadi ta'thil atau menjadi orang yang isykal atau benar fahamnya. 
?

 Tak usah sebut2 wahhabi dulu kalau diskusi karena penyebutan itu tentu bukan cari kebenaran tapi diskusi yg di mulai dengan sinisme merupakan sifat merasa benar.

Silahkan antum baca lagi bahwa zhahir yg di maksud adalah makna kebiasaan secara lughawi yaitu yadun = tangan. Tetapi tangan yang di maksud adalah dalam terminologi/istilah yaitu qudrah iradah dan af'al. 

makna2 zhahir secara lughat yg di bangun dari makna istilah itu mempunya arti asal yang banyak,sudah di sebutkan diatas yaitu ma'na takwil karena musytarak itu berkarakter muawwal.yadun itu punya makna musytarak. 
Yang paling penting adalah bukan memaknai zhahir secara jismi/hissy.

Pendapat ulama :

1- قال الإمام عثمان بن سعيد الدارمي رحمه الله (280 هـ): " ونحن قد عرفنا بحمد الله تعالى من لغات العرب هذه المجازات التي اتخذتموها دُلسة وأُغلوطة على الجهال ، تنفون بها عن الله حقائق الصفات بعلل المجازات ، غير أنا نقول : لا يُحكم للأغرب من كلام العرب على الأغلب ، ولكن نصرف معانيها إلى الأغلب حتى تأتوا ببرهان أنه عنى بها الأغرب ، وهذا هو المذهب الذي إلى العدل والإنصاف أقرب ، لا أن تعترض صفات الله المعروفة المقبولة عند أهل البصر فنصرف معانيها بعلة المجازات " انتهى من "نقض الرادرمي على بشر المريسي" (2/755).
2- وقال الإمام أبو جعفر محمد بن جرير الطبري رحمه الله (310 هـ) : " فإن قال لنا قائل : فما الصواب في معاني هذه الصفات التي ذكرت ، وجاء ببعضها كتاب الله عز جل ووحيه، وجاء ببعضها رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قيل: الصواب من هذا القول عندنا: أن نثبت حقائقها على ما نعرف من جهة الإثبات ونفي التشبيه ، كما نفى عن نفسه جل ثناؤه فقال : ( ليس كمثله شيء وهو السميع البصير ) إلى أن قال : " فنثبت كل هذه المعاني التي ذكرنا أنها جاءت بها الأخبار والكتاب والتنزيل على ما يُعقل من حقيقة الإثبات ، وننفي عنه التشبيه فنقول : يسمع جل ثناؤه الأصوات ، لا بخرق في أذن ، ولا جارحة كجوارح بني آدم . وكذلك يبصر الأشخاص ببصر لا يشبه أبصار بني آدم التي هي جوارح لهم. وله يدان ويمين وأصابع ، وليست جارحة ، ولكن يدان مبسوطتان بالنعم على الخلق ، لا مقبوضتان عن الخير ، ووجه لا كجوارح بني آدم التي من لحم ودم. ونقول : يضحك إلى من شاء من خلقه ، لا تقول: إن ذلك كشر عن أنياب ، ويهبط كل ليلة إلى سماء الدنيا " انتهى من "التبصير في معالم الدين" ص (141-145) .
3- وقال الإمام أبو أحمد محمد بن علي بن محمد الكرجي المعروف بالقصاب رحمه الله (360هـ) في الاعتقاد القادري الذي كتبه لأمير المؤمنين القادر بأمر الله سنة 433 هـ ووقَّع على التصديق على ما فيه علماء ذلك الوقت ، وأرسلت هذه الرسالة القادرية إلى البلدان. قال: " لا يوصف إلا بما وصف به نفسه أو وصفه به نبيه، وكل صفة وصف بها نفسه، أو وصفه بها نبيه، فهي صفة حقيقية لا صفة مجاز ، ولو كانت صفة مجاز لتحتم تأويلها ، ولقيل : معنى البصر كذا ، ومعنى السمع كذا..

info salamtime

SIAPAKAH AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA'AH ?

Benarkah AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA'AH itu asy'ariyyah?  Saya akan jawab persoalan yang terus menipu orang online maupun orang offline...